Formulasi dan Aplikasi Insektisida


PENDAHULUAN


Sebagian besar insektisida (pestisida) diproduksi sebagai bahan yang relatif murni.  Umumnya, insektisida yang relatif murni tersebut kemudian diproses menjadi bentuk yang dapat menjamin keamanan dan efikasinya saat diaplikasikan.   Berbagai bentuk formulasi insektisida memiliki berbagai karakteristik yang pada akhirnya sangat berperan.   Formulasi insektisida merupakan pertimbangan penting dalam pengendalian hama dilihat dari beberapa karakteristik seperti habitat hama, konstruksi bangunan, keamanan operator,  ketersediaan alat, metoda pengendalian, tuntutan pelanggan dsb.   Keberhasilan pengendalian memerlukan pengetahuan serta hubungan antara hama, jenis formulasi insektisida serta cara aplikasinya.  Dalam tulisan ini akan dibahas lebih dalam tentang  hubungan formulasi insektisida dan cara aplikasinya.

FORMULASI


Pemilihan jenis formulasi sangat berperan penting dalam keberhasilan pengendalian.  Sebagai contoh : pada permukaan porous seperti batu-bata dan lapisan semen, formulasi EC akan langsung terserap pada permukaan sehingga tidak efektif.  Sedangkan formulasi lain seperti WP dan EC akan tetap tinggal dipermukaan dan akan efektif mengendalikan serangga yang menyentuhnya.


KOMPONEN FORMULASI



Komponen formulasi secara mendasar terdiri dari : bahan aktif (dari bahan teknis), pelarut (solvent) dan surfaktan atau sering disebut juga dengan surface-active agent, serta sinergis.
                                                      
Bahan aktif adalah bahan utama yang secara biologis bersifat sebagai insektisida.  Di Indonesia persentase bahan aktif dapat dilihat dari angka dibelakang nama dagang.  Seperti INDRO 25 EC berarti kadar bahan aktif insektisidanya adalah 2.5 % atau 25 gram/L.
Pelarut (solvent) adalah bahan yang digunakan untuk “melarutkan” bahan aktifnya.  Umumnya pelarut dari insektisida adalah minyak/hydrocarbon, bubuk talk dan bisa juga air.  Pelarut harus dibedakan dengan pengencer (diluent).  Pengencer adalah bahan yang digunakan untuk mengencerkan formulasi sehingga siap untuk diaplikasikan.  Contoh pengencer adalah air dan solar.
Surfaktan adalah bahan kimia di dalam suatu formulasi untuk memperbaiki sifat-sifat seperti kebasahan, penyebaran (spreading), dispersibilitas, pembentukan emulsi dsb.  Ada dua tipe surfaktan, yaitu emulsifier dan wetting agent (zat pembasah).  Emulsifier membantu tercampurnya larutan berdasar minyak dengan air.  Tanpa surfaktan minyak dan air tidak akan bercampur dan penambahan emulsifier  akan  membuat larutan seperti susu.  Wetting agent membantu tercampurnya insektisida yang berbentuk partikel padat dengan air.  Wetting agent umumnya ditambahkan untuk formulasi berbentuk WP.
Sinergis adalah bahan kimia meskipun tidak harus mempunyai sifat insektisida namun dapat meningkan potensi insektisida dari bahan yang ditambahkan.  Contoh dari sinergis adalah PBO (piperonyl butoxide) dan MGK 264.

JENIS-JENIS FORMULASI

Formulasi-formulasi yang banyak digunakan pada kegiatan pengendalian hama permukiman antara lain oil concentrate, emulsifiable concentrate, wettable powder, suspension concentrate/flowable concentrate, Microencapsulated, Solution, dust, granule, bait, ready-to-use dsb.

OIL CONCENTRATE (OC)


Ini merupakan formulasi yang paling sederhana dan banyak dipakai pada insektisida rumah tangga.  Formulasi ini hanya terdiri dari bahan aktif yang dicampur dengan satu pelarut yang “kuat” (mis : aromatic hydrocarbon) dan pelarut lain seperti minyak tanah.  Sekarang formulasi ini mulai banyak ditinggalkan dengan meningkatnya harga pelarut minyak serta meningkatnya tuntutan masyarakat akan insektisida yang tidak berbau (minyak).  Formulasi OC masih diperlukan untuk mengendalikan hama-hama kayu seperti woodborer, rayap kayu kering  dsb, karena minyak akan mudah terserap kuat pada kayu.


EMULSIFIABLE CONCENTRATE (EC)

Formulasi EC adalah formulasi yang sangat populer di kalangan pengendali hama.  Formulasi EC dibuat dengan menambahkan emulsifier pada campuran bahan aktif dan pelarut  agar dapat bercampur dengan air membentuk emulsi minyak dalam air yang berupa larutan putih seperti susu.  Larutan putih seperti susu ini bahkan menjadi generik bagi awam bahwa insektisida itu harus (bau dan) membentuk larutan seperti susu bila ditambahkan air.

Kelebihan utama dari EC adalah relatif (sangat) murah dan mudah digunakan, karena  hanya diencerkan dengan air yang mudah dan murah didapatkan di mana saja.  Umumnya formulasi digunakan  untuk penyemprotan permukaan atau surface spray dengan volume tinggi seperti penyiraman tanah (soil drenching) pada peracunan tanah (soil treatment) maupun  space spray seperti  ulv dan misting.

Kekurangan dari EC adalah  mudah terserap pada permukaan porous seperti batu-bata, semen, maupun batu gunung, sehingga tidak meninggalkan residu aktif.  Disamping itu perlu agitasi atau guncangan pada alat semprot agar emulsi tetap stabil dan resiko bahaya keracunan dermal karena minyak mudah terserap oleh kulit.

Hampir semua golongan insektisida mempunyai formulasi EC ini.


WETTABLE POWDER (WP) / WATER-DISPERSIBLE POWDER (WDP)


Alasan awal pembuatan formulasi ini adalah karena bahan teknis tidak dapat larut dengan pelarut maupun dengan air.  Namun sekarang alasan ini tidak berlaku lagi, karena pembuatan formulasi karena kebutuhan yang lain.
Cara pembuatan WP/WDP adalah dengan mencampurkan bahan teknis dengan pelarut padat (seperti bubuk talc) dengan cara dicelup (impregnating) maupun pelapisan luar (coating) dan ditambahkan wetting agent agar dapat bercampur dengan air.

Keuntungan dari formulasi WP/WDP adalah tidak/kurang berbau, tidak/kurang fitotoksik, absorpsi dermal rendah dan stabil pada segala jenis permukaan (porous dan non-porous), karena saat air menguap bahan aktif dan partikel padat tetap pada permukaan.  Sehingga formulasi ini umumnya untuk aplikasi residual.

Kekurangannya adalah  meninggalkan bercak pada permukaan, penyumbatan nozzle, larutan tidak stabil sehingga perlu agitasi tabung semprot secara konstan,  bahaya inhalasi bubuk insektisida saat persiapan/pencampuran.

.
SUSPENSION CONCENTRATE (SC) / FLOWABLE CONCENTRATE (FC/FW)


Suspension Concentrate yang “sejati” dibuat dari bahan aktif yang pada suhu kamar berbentuk kristal/padat yang tidak dapat larut dengan air.   Sehingga hanya beberapa  bahan aktif saja yang dapat diformulasi SC/FW, seperti deltamethrin, permethrin, fipronil dsb.

SC/FW dibuat dengan melarutkan bahan aktif murni dengan pelarut organik dan  nucleating agent (bahan yang mengikat kristal).   Apabila SC/FW dicampur dengan air, pelarut akan terdispersi dan bahan aktif (kristal) akan  tersedia untuk serangga hama.  Karena bahan aktif berbentuk kristal yang sangat kecil (3-5 mikron) sehingga akan memaksimalkan kontak antara serangga dengan bahan aktif, disamping itu juga menghindarkan penyumbatan nozzle dan residu yang terlihat
.
Kelebihan lain dari SC/FW adalah mudah larut dalam air dan stabil, kristal yang tersedia adalah 100 % bahan aktif, stabil pada permukaan porous dan toksisitas dermal dan oral lebih rendah dibanding formulasi lainnya.
Satu-satunya kelemahan dari SC/FW adalah bahan aktif insektisida yang bisa diformulasi SC/FW sangat terbatas.


MICROENCAPSULATED/MICROENCAPSULATION (ME/FM)

Microencapsulation adalah suatu proses di mana bahan aktif dan bahan pembawanya (inert ingreadient) dikemas dalam droplet mikroskopis (+ 10 - 30 mikron) dan dibungkus dalam kapsul polymer yang permeable (polyurea).  Insektisida di dalam kapsul akan “keluar” secara perlahan-lahan ke permukaan dan tersedia untuk serangga hama.  Ketika bahan aktif di permukaan kapsul terambil, maka bahan aktif di dalam kapsul akan menggantikannya, oleh karenanya formulasi ini dikenal juga sebagai slow released formulation.   Produsen dapat mengatur ketebalan, ukuran, solubilitas dan daya tembus kapsul sesuai dengan karakteristik yang diharapkan seperti residual life, daya kerja, bau dan keamanan dari formulasi.

Kelebihan-kelebihan ME/FM :
  • Kapsul melindungi insektisida dari kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, UV) yang dapat menguraikan insektisida.
  • Efektif pada permukaan porous.
  • Racun kontak dan racun perut.
  • Bila termakan dapat mengendalikan serangga yang telah resisten.
  • Toksisitas dermal dan oral lebih rendah.
  • Mengurangi bau.
Kekurangan-Kekurangan ME/FM :
  • Mahal.
  • Susah larut dengan air (terlalu viscous).
  • Perlu agitasi secara konstan.
  • Penyumbatan nozzle.


SOLUTION (S/SL)

Solution adalah formulasi insektisida yang dibuat dari bahan aktif yang “relatif” mudah larut dalam air.  Bentuk formulasi ini berupa larutan bening seperti air dan apabila diencerkan dengan air hampir tidak mengalami perubahan warna.

Kelebihan formulasi ini adalah dari segi toksisitasnya yang rendah dan mudah dilarutkan serta tidak meninggalkan bercak.

Kelemahan dari formulasi ini adalah terbatasnya insektisida yang bisa diformulasikan S/SL sangat terbatas disamping karena tidak berwarna banyak orang secara psikologis kurang puas.


DUST (D)


Formulasi ini sama dengan formulasi WP dengan ukuran partikel yang lebih halus, namun tanpa wetting agent karena merupakan formulasi siap pakai dan tanpa dicampurkan dengan air.  Biasanya kadar bahan aktifnya rendah (0.5 – 1 %).

Kelebihan dari dust adalah untuk aplikasi di tempat di mana air tidak diperbolehkan, seperti alat-alat listrik disamping kehalusan partikel akan meningkatkan distribusi insektisida di tempat-tempat yang sulit (inaccessible) seperti wall void dan C & C.

Kelemahannya dust antara lain : meninggalkan bercak, terbawa angin  dan kemungkinan kontaminasi bahan pangan serta bahaya inhalasi bila terhirup.


GRANULE (G)

Granule merupakan formulasi siap pakai dengan proses pembuatannya dengan menyemprotkan cairan insektisida ke bahan butiran (mis : pasir, sekam padi, tongkol jagung dsb).  Formulasi ini kebanyakan digunakan di pertanian untuk mengendalikan serangga di dalam tanah. 

 
BAIT (B)

Formulasi ini dapat berbagai-macam jenis, antara lain : cairan, granule, gel, pasta, tablet, bubuk, batangan/blok dsb.  Bait merupakan campuran bahan aktif dengan bahan makanan atau atraktan lainnya.  Persyaratan lain dari bait adalah bahan aktif yang bias digunakan harus bersifat non-repelan.

Keuntungan  bait antara lain adalah siap pakai dan hama akan mendatangi umpan.  Kerugiannya adalah satu umpat spesifik terhadap hama tertentu saja,  daya tahan dari bait kadang tidak lama (palatibilitas), dan kemungkinan keracunan pada anak-anak.  Meningkatnya kesadaran masyarakat akan lingkungan menjadikan formulasi ini menjadi populer sebagai pilihan dalam program pengendalian.

Berbagai umpan untuk berbagai keperluan telah tersedia secara komersial antara lain ant, fly dan roach bait (granule dan gel), Lasio bait (tablet) dan termite bait.

READY-TO-USE (RTU)


Ada beberapa macam jenis RTU, antara  lain oil spray dan aerosol yang banyak dijual untuk rumah tangga.  Untuk pemakaian  professional adalah ULV.
Formulasi ini siap pakai dan tidak perlu dilakukan penambahan dengan bahan lainnya.

 PEMILIHAN FORMULASI


Pemilihan formulasi untuk suatu pekerjaan harus mendapatkan perhatian yang setara dengan pemilihan jenis bahan aktifnya.   Pemilihan formulasi menjadi sangat penting pada program pengendalian “low impact”.  Jenis formulasi mempengaruhi toksisitas insektisida terhadap organisme bukan sasaran dan tingkat residualnya.  Jika dampak residual yang diinginkan, maka interaksi antara insektisida dan jenis permukaan yang disemprot juga harus dipertimbangkan.
Pertimbangan-pertimbangan lainnya :
  • Perilaku hama.
  • Ketersediaan alat.
  • Bahaya “drift” – kontaminasi lingkungan.
  • Keamanan operator dan bukan sasaran.
  • Kemungkinan kontaminasi terhadap makanan.
  • Bercak/stain.
  • Jenis/tipe permukaan.
  • Biaya.

Dalam era pengendalian moderen, sekarang dikenal juga istilah low impact insecticides dan low impact formulation.  Low impact insecticides misalnya piretroid, boric acid, hydramethylnon, fipronil, imidacloprid, piretrin dsb.  Sedangkan low impact formulation adalah formulasi yang mempunyai dampak bahaya rendah, antara lain WP, SC, MEC, Bait, Dust  dsb.

APLIKASI INSEKTISIDA


Tujuan dari pengendalian hama dengan menggunakan insektisida adalah agar terjadi kontak secara maksimal antara insektida dengan serangga hama.  Tindakan ini harus dilakukan secara benar sehingga  mendapatkan hasil yang maksimal dengan tingkat resiko terhadap manusia dan organisme bukan sasaran  minimal atau bahkan ditiadakan.  Teknik aplikasi diperlukan agar dosis bahan aktif insektisida  (yang kadang sangat rendah) dapat didistribusikan ke suatu ruangan/bangunan secara merata.  Pemilihan alat dan cara pemakaian yang benar dapat membantu distribusi insektisida dan pengendalian yang efektif.

Secara singkat, aplikasi insektisida adalah faktor yang sangat penting untuk pengendalian kimiawi secara efisien dan aman.  Disamping itu, pengetahuan tentang perilaku dan biologi serangga hama tidak boleh ditinggalkan.

 JENIS-JENIS APLIKASI INSEKTISIDA


Ada beberapa cara untuk  “menyalurkan” insektisida agar dapat kontak dengan hama sasaran untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.  Dalam industri pengendalian hama permukiman, aplikasi insektisida sapat dibagi dalam  empat kelompok sehubungan dengan jenis serangga dan perilakunya : (1).  Space Spray untuk serangga terbang, (2).  Surface Spray untuk serangga merayap, (3).  Fumigasi, dan (4).  Pengumpanan (Baiting).

SPACE SPRAY


Serangga terbang seperti nyamuk, lalat, ngengat dan beberapa kumbang hama gudang dapat efektif dikendalikan dengan melakukan space spray.  Space spray adalah metode aplikasi insektisida dengan cara memecah insektisida cairan menjadi droplet-droplet yang sangat kecil (10 – 50 mikron) dan berada di udara untuk waktu yang cukup.  Droplet-droplet kecil tersebut dihasilkan dengan melibatkan energi dalam bentuk : energi panas/thermal (heat), seperti pada thermal fogger, energi mekanik seperti pada cold fogger (ULV/ULD), dan energi dari gas yang dimampatkan seperti pada aerosol dalam tabung.

Insektisida yang digunakan dalam space spray biasanya mempunyai daya knock-down yang tinggi dan bersifat non residual.

Space spray biasanya dilakukan pada ruangan yang relatif besar (rumah, gudang) dan juga untuk luar ruangan seperti pada pekarangan, lapangan golf, bola dsb.  Untuk mendapatkan hasil yang maksimal di dalam ruangan, biasanya disarankan untuk menutup ruangan sehingga kontak insektisida dan serangga maksimal. 
Formulasi yang umum digunakan pada space spray adalah yang oil-based, namun sekarang tersedia beberapa formulasi insektisida yang dapat digunakan untuk ULV dengan menggunakan pelarut air.  Pelarut air tidak efektif untuk aplikasi luar ruangan (outdoor), karena air mudah menguap sehingga kontak insektisida dan hama tidak maksimal.

Space spray juga dapat digunakan untuk membantu mengendalikan serangga merayap, karena kemampuannya menembus tempat persembunyian serangga (harborage).

 

SURFACE SPRAY


Serangga merayap seperti lipas, semut, kutu busuk dan beberapa kumbang hama gudang dapat efektif dikendalikan dengan melakukan surface spray.  Surface spray adalah perlakuan insektisida baik yang berbentuk cair maupun bubuk pada suatu permukaan.   Insektisida yang digunakan umumnya mempunyai efek residu, dan residu tersebut bisa bertahan hingga beberapa minggu, bulan bahkan tahun.    Keberhasilan insektisida bergantung pada serangga hama yang datang ke permukaan tersebut. 

Ada tiga macam jenis surface spray, yaitu :
  • Dusting – untuk tempat yang sulit dijangkau seperti C&C, wall void dan tempat-tempat yang tidak diperbolehkan kontak dengan air seperti alat listrik dan mesin.
  • Surface spray – penyemprotan permukaan dengan droplet kasar dan basah hingga terjadi lelehan (run-off).   Permukaan yang disemprot adalah permukaan yang paling sering dilewati oleh hama.
  • High Volume Surface Spray – penyemprotan volume tinggi pada permukaan tanah untuk pengendalian rayap dan serangga penghuni tanah lainnya (semut api, anjing tanah dsb).

PENGUMPANAN/BAITING


Aplikasi umpan untuk mengendalikan hama permukiman adalah karena beberapa faktor antara lain : perbaikan atraktan dan bahan aktif, pembatasan penggunaan insektisida di beberapa tempat (RS, sekolah, tempat makanan/makan) dan kesadaran akan keamanan lingkungan dan manusia.
Umpan/bait bersifat spesifik, sehingga umumnya satu umpan hanya efektif untuk satu hama.

Untuk keberhasilan suatu program pengumpanan  harus didukung oleh beberapa hal :
  • Sanitasi.
  • Penempatan yang benar.
  • Ketersediaan umpan yang cukup.
  • Palatibilitas umpan tinggi.
  • Migrasi hama terbatas.

Penggunaan bait sebaiknya tidak dikombinasi dengan penggunaan insektisida, karena ada kemungkinan efek antagonis.